Ku berjalan melewati jalanan yang amat sepi. Tak tau kemana tujuanku. Titik - titik hujan masih terasa. Embun hujan dan hawa dingin menyerbu kota ini. Otakku. Pikiranku. Semua kosong!
Sesaat, aku mendengar suara nyanyian merdu sekali. Aku mendekat, suaranya lirih dan lemah. Tetapi, aku masih dapat mendengar.
Ragu. Ingin mendekat. Tetapi, betapa itu tidak bodoh kalau kita mendekat orang yang tidak kita kenal? Aku pun mendekatinya.
Ingin. Ingin mengajak kenalan. Tetapi, tunggu dululah, dia belum selesai bernyanyi. Dan.. ku harap ia mau menyanyikan sebuah lagu untukku. "Hai.. ada apa?" tanyanya sambil melihatku. Aku terdiam seribu bahasa. Tak ada kata yang ada di pikiranku. Tanpa aku sadar, aku mengucapkan, "Hebat!! Suaramu merdu sekali!! Maukah kamu menyanyikan sebuah lagu untukku?" "Oke!" jawabnya semangat. Ia menyanyikan lagu yang aku suka. Aku melihat jarinya yang lentik memainkan gitar. Mataku tak berkedip sedetik pun.
"Siapa namamu?" tanyaku setelah ia menyanyikan lagu untukku. Ia tak menjawab. Ia ingin meninggalkanku. Tetapi, aku memegang tangannya. Dia tak mau berkenalan denganku? BODOH! batinku.
"Kau tak mau berkenalan denganku, kawan?!" tanyaku sedikit marah. Dia menunduk. "Ya sudah.. tetapi, bisakah kau melepas genggaman tanganmu ini?" tanyanya melirik tangannya. Segera aku melepas genggamannya. "Namaku.." katanya ragu "Namaku Jessica Jeremiah Lavender," katanya menunduk "Kau dapat memanggilku Jazzy," lanjut Jazzy "Kalau kau?" tanyanya balik "Aku Dicky January. Kau bisa memanggilku Dick," jawabku tersenyum. Tiba - tiba, hujan deras mengguyur kota ku. Aku segera berlari untuk mencari tempat berlindung dari hujan.
Tersadar. Jazzy sudah tidak ada di samping ku. Aku berlari sambil berteriak, "JAZZY! DIMANA KAU?!". Orang yang berjalan menatap ku kebingungan. Seolah mereka berkata, 'Orang gila!' atau mungkin, 'Ayah yang tak bertanggung jawab!' atau mungkin yang lain yang tidak aku pikirkan.
'Itu Jazzy!' teriak ku dalam hati, aku segera berlari menghampirinya. "Jazzy! Mengapa kau menangis?" tanyaku "A.. aku tak tau harus kemana.." jawabnya terbata - bata dan menangis. Aku segera memeluknya dan menahan air mataku. Setelah aku memastikan kalau aku tak menangis, aku berkata, "Kau dapat tinggal di apartemen ku," "Yakin? Aku tak pantas!" kata Jazzy merendahkan diri "Ayolah.., aku tak mau kau disini sendiri. Ayo.." paksa ku "Ya sudah kalau kau memaksa ku," kata Jazzy menyerah. "Mengapa kau tidak tinggal bersama kedua orang tuamu?" tanyaku "A.. aku diusir. Aku dipaksa tidak bermain gitar. Tetapi, aku tak menuruti. Dan.. hasilnya," jawab Jazzy menahan air matanya. Aku tak dapat menahan air mataku. Aku memeluk erat Jazzy dan mengusap rambutnya yang ikal dan coklat itu. Aku menghapus air mata yang ada di pipinya. Awal, aku tak percaya jika anak selembut dan sebaik Jazzy diusir oleh orang tuanya.
Sampai apartemen, aku segera menunjukan dimana kamar Jazzy. Dengan ragu, ia memasuki kamarnya. "Ya sudah. Aku ke kamar dulu ya," izin ku. Aku berjalan ke kamar ku. Sebenarnya, aku adalah artis. Penyanyi, lebih tepatnya. Sebenarnya, aku menolak semua tawaran. Baik iklan, menghibur. Aku sedang benar - benar malas dan kesal! Aku tak bersemangat lagi semenjak ayahku tak ada di sisiku. Ibuku, berselingkuh. Aku kabur dari rumah! Memang, tak semua fans ku tau kalau aku tak punya orang tua yang lengkap. Tetapi, rasanya aku akan mulai bernyanyi lagi dengan mengajak Jazzy.
Di kamar, Jazzy membuka tas yang hanya berisi 3 baju, not - not lagu, dan fotonya waktu kecil dan bersama orang tuanya.
Sedangkan aku, aku merusak semua kenangan indah bersama orang tuaku!! Aku menangis kesal!! "AYAH!! AYAH!! AKU INGIN BERTEMU AYAH!! YAH.. TEMENIN DICKY !!" teriakku sambil mengobrak - abik kamar.
'Knock ! Knock ! Knock !' Jazzy mengetuk pintu kamar ku. "Masuk!" kataku. "Ya ampun, Dick! Mengapa bisa begini?!" tanya Jazzy kaget. Aku hanya diam menunduk. "Kau tadi memaksa ku untuk menjawab pertanyaanmu. Tetapi, kau sendiri tidak menjawab pertanyaan ku!" kata Jazzy marah. Aku segera menggengam tangannya. "Aku sudah tak punya orang tua, dan........" aku pun mulai bercerita. Jazzy memeluk ku sambil menangis.
*SKIP. 1 BULAN KEMUDIAN*
Sudah satu bulan aku dan Jazzy bersahabat. Aku ingin menyatakan perasaan ku ke Jazzy. Ya, aku cinta dengan Jazzy! Aku mengajak nya ke tempat yang romantis.
"Mengapa kau mengajak ku kesini?" tanya Jazzy sambil memperhatikan ke sekeliling. Aku diam. Tersenyum penuh rahasia.
"Aku ingin berbicara denganmu. Tapi, kau tak boleh marah. Janji?" kataku sebelum bilang perasaan ku yang sebenarnya.
"Janji!"
"Jazzy, aku cinta padamu, apakah kau mau menjadi pacar ku?" tanyaku penuh harap. Ia segera mencium kening ku. Aku terhanyut. Aku menatapnya bingung "Aku mau.." jawabnya.
-------
Tak tau maksud Tuhan apa. Aku.. aku sakit kanker otak. Hari ini.., aku akan pergi ke rumah sakit. Aku berharap, fans ku dan Jazzy tetap semangat mendukung ku. Aku datang meng- krontrolkan keadaan ku ke sahabat ku, Jeveline Threyno.
"Dicky... aku tau kamu masih ingin hidup. Tapi.., ini kehendak Tuhan. Keadaanmu semakin memburuk. Kamu harus dirawat disini," kata Jeveline. Aku diam seribu bahasa. "Tuhan.. sembuhkan aku! Aku masih ingin hidup! Aku ingin melihat anakku!" batinku. Ya.., sekarang Jazzy sedang mengandung. Usia kandungannya 7 bulan.
Jazzy pun datang ke kamar perawatan ku. "Sayang.. kamu harus kuat !!" dukung Jazzy memegang tanganku. Aku hanya terharu mendengar kata - katanya. Aku menitikkan sebuah air mata. Ia segera menghapus air mataku dan memeluk ku.
Sekarang mataku membengkak. Aku terbangun dari tidur ku. Aku melihat Jazzy yang tidur di kursi. Kasihan dia... aku membuat dia repot pada waktu ia mengandung anakku. "Jazzy.." bisik ku pelan agar tidurnya Jazzy tak terganggu. "Ternyata kau sudah bangun, Dick!" Jazzy terbangun dari tidurnya. Mukanya terlihat amat lemas dan kecapaian. "Bodoh! Mengapa kau tak tidur saja?!" batinku. "Jazzy.., kesini kau," panggil ku.
Jazzy mendatangi aku, aku meraba perutnya dan mengelus nya. "Perut kamu sudah besar ya," timpal ku. "Aku ingin bicara pada anak kita," "Baby.. kamu jangan sedih ya, kalau enggak punya orang tua yang sempurna. Tapi, ada Mama yang jagain kamu. Papa liat kamu dari surga.. Nikmati masa muda dan masa hidupmu dengan sebaik - baiknya." kataku sambil mengelus perut Jazzy. Jazzy segera menghapus air mata. "Jangan gitu ah!" kata Jazzy dan segera memeluk ku.
"Jaz.. i love you.." kataku sebelum aku meninggalkan Jazzy. "Dick!!! Dampingi aku!!!!!!!" teriak Jazzy. Di hari pemakaman ku, semua meninggalkan pemakaman ku. Jazzy menangisi ku. Ia tak percaya aku meninggalkan dia secepat ini. Dengan berat hati, Jazzy meninggalkan pemakaman ku.
Jazzy menciptakan sebuah lagu, "He's My Last Love". Sebuah kesedihan yang dialami setelah aku meninggalkan dia dan terserang penyakit yang LIAR.
"He's my love. And, you a happy life without a father.." kata Jazzy sambil mengelus perutnya.
No comments:
Post a Comment